Minggu, 19 Agustus 2012

REVIEW – STEP UP: REVOLUTION (2012)




Sean: ” When the mob speaks, everyone listens “
Saya bukan fans berat dance movie modern, banyak diantara mereka yang terlalu generik dengan kualitas koregrafi ala kadarnya, tetapi tidak untuk wara laba Step Up, khususnya untuk Step Up 3D. Saya suka seri satu itu ketimbang dua pendahulunya meskipun masih tetap berjalan dalam pakem yang sama dengan kebanyakan film-film dansa lainnya.  Jon M. Chu yang 2010 lalu duduk di bangku sutradara jelas sudah menaikan standartnya satu tingkat lebih tinggi dengan menghadirkan parade koreografi tarian paling muktahir plus dukungan 3D yang luar biasa, dan jika ia ingin mengakhiri franchise ini dalam sebuah trilogi, maka Step Up 3D adalah penutup yang sempurna, tetapi kenyataanya tidak, maka kemudian tahun ini hadirlah instalemen ke empatnya yang diberi embel-embel “Revolution”.
Pertanyaannya sederhana, apa yang bisa dilakukan Revolution agar dapat melebihi pendahulunya? Pertunjukan “Laser Dance” di klimaks Step Up 3D itu sungguh spektakuler dan sulit untuk ditandingi, jadi Revolution jelas punya beban berat untuk setidaknya dapat melebihi atau paling tidak menyamai kualitas seri ke 3 nya yang notabene juga menjadi seri paling laris, apalagi pemilihan kata seberat “Revolution” jelas membuat epektasi penontonnya bisa melambung tinggi, menantikan kira-kira revolusi apa yang akan dibuat Chu (kini ia hanya menjadi produser) bersama sutradara spesialis video klip musik, Scott Speer.
Masalahnya tidak ada revolusi di sini, kecuali kamu menyebut kehadiran Youtubefacebook, twitter dan tren flash mobs sebagai sebuah reovlusi. Revolution masih berada di dalam koridor yang sama dengan para predesesornya, cerita super corny, romasa picisan dan konflik yang terlalu mudah , tetapi mungkin tidak ada yang terlalu peduli dengan segala kualitas naskah atau akting para pemainnya yang menyedihkan dan membosankan itu, toh, Step Upadalah segalanya tentang tarian-tarian keren dan soundtrack-soundtrack asik. Ya, Revolution punya itu semua, pria tampan, Ryan Guzman dan gadis cantik bernama Kathryn McCormick jebolan ajang pencarian bakat So You Think You Can Dance musim ke enam, musik-musik dan banyak flash mobs dari para anggota MOB narsis dengan balutan koreografi jempolan garapan Jamal Sims, Christopher Scott, Chuck Maldonado dan Travis Wall, plus Miami yang berarti juga pantai musim panas dan juga bikini, tetapi sekali lagi tidak ada faktor “wow” di sini, kita sudah pernah melihatnya semuanya sebelumnya, tidak peduli seberapa bagus dan enerjiknya mereka menari,  Revolution tidak pernah mencapai titik didih tertinggi.


Jelas bukan salah Speer, sutradara 30 tahun ini sudah melakukan segalanya dengan cukup baik di debutnya, salahkan saja Chu dan Step Up 3D-nya yang sudah membuat batasan tinggi yang sulit untuk dapat dilampaui. Tidak ada kejutan berarti di setiap dance moments-nya, tidak ada lagi kualitas 3D yang hebat, bahkan final dance yang dinanti-nantiknya-nya pun berasa antiklimaks sampai-sampai membutuhkan bantuan The Pirates (para dancer dari Step Up 3D) di bawah komando Moose untuk dapat membuatnya meriah. Ya,  Revolution hanya sekedar menjadi seri lain dari franchise Step Up. Jelas bukan yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar